Kawal Pendidikan

Information

This article was written on 09 May 2016, and is filled under Opini Pendidikan.

Pendidikan Urban bagi Kaum Muda

ribuan-motor-jakarta_TribunNews (1)

Hidup mengota (secara urban) menjadi keniscayaan bagi masyarakat Indonesia masa depan. Konflik, fobi terhadap orang asing dan sulit hidup bersama dalam perbedaan bisa menjadi persoalan baru dalam masyarakat. Pendidikan urban bagi kaum muda sangatlah mendesak.

Zygmunt Bauman (2003) dalam “city of fear, city of hopes” mengatakan ciri kehidupan kota sebagai tempat di mana sesama warga tak saling kenal bertemu dan harus hidup berdampingan, berinteraksi dalam waktu yang lama dan tetap menjadi asing satu sama lain. Model kehidupan seperti ini, bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan konflik dan ketegangan sosial.

Umumnya ada dua pilihan warga kota untuk mengatasi ini. Pertama, menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan, saling mendukung, berkompromi dan menemukan cara untuk melanjutkan hidup bersama. Kedua, memilih sikap berseteru, bersaing habis-habisan dan mencoba menjadi pemenang untuk mengalahkan pihak lain.

Pilihan kedua bukanlah idaman siapapun. Sayangnya, kecenderungan ini sudah ada. Kita melihat masyarakat mulai merasa takut pada hal yang asing yang belum dikenal (mixiphobia). Sebaliknya, pilihan pertama paling ideal, yaitu menemukan cara bekerja sama dan saling mendukung di antara sesama “orang tak dikenal”. Namun, pilihan ini membutuhkan usaha dan kerja keras.

Individu dalam budaya urban perlu menjadi pembelajar yang baik. Pendidikan bisa berperanan besar dalam mempersiapkan sosok pribadi yang mampu menerima sesuatu yang asing dan merasa nyaman bercampur di tengahnya (= “mixophilia”).

Ada dua pelaku utama dalam pendidikan urban. Pertama, keluarga. Orang tualah yang pertama-tema menjadi pendidikan anak-anak mereka tentang arti hidup di lingkungan urban. Kedua, pendidikan sekolah. Para guru menjadi teladan dan pembimbing untuk mengajak anak menerima keragaman dan terampil hidup secara sosial bersama “orang lain” yang asing. Jangan sampai sekolah justru menjadi tempat eksklusif, mengerdilkan pribadi si anak dengan bersifat tertutup, hanya merasa nyaman dengan “sesama kelompok” mereka, dan bahkan bersikap memusuhi terhadap mereka yang dianggap berbeda.

Pendidikan kita perlu mereformasi diri, mulai dari orang tua, guru, dan pengajar, untuk memperkenalkan tata kehidupan urban, siap menerima dan terampil mengelola keragaman dan secara positif menemukan pengetahuan baru yang berguna bagi kehidupan yang lebih maju. Hanya dengan ini, kehidupan mengota akan menjadi bagian dari Indonesia yang lebih moderen, lebih beradab, lebih berinovasi dan penuh kreativitas yang pada akhirnya secara kolektif akan membentuk ciri budaya kota Indonesia yang lebih akrab, bersahabat, manusiawi, dan bermartabat.

Kemal Taruc. Penulis adalah Alumni Cornel University, Pegiat Indonesian Nerwork on Urbanism