Kawal Pendidikan

Information

This article was written on 09 May 2016, and is filled under Opini Pendidikan.

Menuju Sekolah Komprehensif

Program Wajib Belajar 12 Tahun membutuhkan perubahan paradigma dari para pemangku kepentingan tentang sekolah komprehensif. Saat ini, sekolah kita masih berparadigma selektif. Menuju sekolah komprehensif adalah sebuah kemendesakan.

Indonesia sudah menerapkan Wajib Belajar (Wajar) tahun sejak 1994. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memulai rintisan Wajib Belajar 12 tahun pada 2016. Wajib Belajar adalah adalah ‘program pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah’ (Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 2008).

Ketika Pemerintah Indonesia berani menyelenggarakan Wajar, pemerintah harus berkomitmen untuk menyediakan layanan pendidikan yang memadai sehingga memungkinkan semua warga negara bisa mengakses pendidikan yang disyaratkan dalam program Wajar. Apabila pemerintah jadi mencanangkan Wajar 12 tahun, tentu saja pemerintah wajib menyediakan layanan pendidikan setingkat SD, SMP, dan SMA bagi setiap warga negara.

Menyediakan layanan pendidikan saja tidak cukup. Pemerintah juga harus menjamin, bahwa gap kualitas antar layanan pendidikan harus sekecil mungkin. Menerapkan Wajar berarti memastikan bahwa semua warga negara bisa punya kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Penerapan program Wajib Belajar membutuhkan perubahan paradigma. Pertama, Wajar mengandaikan pemahaman bahwa pendidikan merupakan hak setiap manusia. Kedua, perlu dipastikan adanya kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan (equality of opportunity). Ketiga, hak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Setiap manusia berhak berada di dalam lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, ramah (anak), dan sehat. Keempat, hak untuk dihargai di lingkungan pendidikan. Setiap manusia berhak dihargai hak-haknya termasuk identitasnya (agamanya, sukunya, dan latar belakangnya).

Paradigma bahwa pendidikan adalah hak setiap manusia berakibat bahwa layanan pendidikan yang disediakan negara untuk pelaksanaan program Wajar (biasanya berupa sekolah negeri) tidak boleh lagi bersifat selektif. Sekolah selektif harus beralih menjadi sekolah komperhensif.

Sekolah selektif adalah lembaga pendidikan yang memilih siswa berdasarkan tingkat kemampuan akademik. Misalnya, syarat masuk mendasarkan diri pada nilai ujian nasional, atau tes masuk. Hanya siswa pintar yang bisa diterima. Sedangkan sekolah komperhensif adalah lembaga pendidikan yang tidak menyeleksi siswa berdasarkan kemampuan akademiknya, melainkan karena mereka memiliki hak. Setiap warga negara punya kesempatan yang sama untuk memasuki sekolah-sekolah komperhensif. Program Wajib Belajar mewajibkan Pemerintah untuk menjadikan sekolah negeri sebagai sekolah komprehensif.

Sampai sekarang, sekolah kita masih berparadigma selektif. Padahal, salah satu tujuan didirikan sekolah negeri adalah untuk menyediakan layanan pendidikan berkualitas bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali, termasuk bagi mereka yang kemampuan akademisnya kurang. Menuju sekolah komprehensif tetap menjadi tantangan yang perlu dipecahkan.

Dhitta Puti Sarasvati adalah Direktur Riset dan Pengembangan Program Ikatan Guru Indonesia (IGI). Kini juga mengajar di Faculty of Education, Sampoerna University, Jakarta.